obatmu ada pada dirimu tapi tidak kamu sadari. penyakitmu datang dari dirimu tapi tidak kamu waspadai. kamu menganggap dirimu sesuatu yang kecil, padahal dalam dirimu terkumpul seluruh jagad raya (Ali bin Abi Thalib)

Rabu, 17 Oktober 2012

(Resensi) Jurnalisme Hukum, Jurnalisme Tanpa Menghakimi


RESENSI


Judul Buku: Teknik Reportase & Menulis Berita Hukum; Jurnalisme Hukum (Jurnalisme Tanpa Menghakimi)
Penulis: L. R. Baskoro
Penerbit: CV. PERSADA RAHARJA NUGRAHA
Cetakan: Pertama, 2011
Ukuran: 14 x 21,5 cm
Halaman: 196 hlm


Jurnalisme hukum bukan jurnalisme menghakimi. Ia tidak memiliki wewenang untuk menyatakan seseorang bersalah atau benar. Wartawan bukan hakim. Jurnalisme hukum hanya bertugas menggali dan mencari informasi, memberikannya kepada pembaca, dan pembaca yang menyimpulkan. Wartawan hukum menyampaikan fakta yang ia cari, ia gali dari berbagai narasumber.
Tugas seorang wartawan hukum adalah mencari kebenaran dan menyampaikannya secara menyeluruh dengan jujur. Tak ada motif apapun selain menyampaikan dan menggali kebenaran tersebut. Karena itu berita atau tulisan seorang wartawan hukum harus lahir dari sebuah karya jurnalistik tanpa prasangka: Jurnalisme tanpa menghakimi.
Berangkat dari hal tersebut, L.R. Baskoro menulis buku “Jurnalisme Hukum, Jurnalisme Tanpa Menghakimi” ini. Ranah hukum bisa jadi merupakan area yang sensitif bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Sebagai seorang jurnalis, jangan sampai sebuah pemberitaan menyudutkan salah satu golongan sedangkan golongan yang lain merasa diuntungkan. Seorang jurnalis harus berjalan di tengahnya tanpa memiliki kepentingan apapun selain menyampaikan fakta atas dasar data yang akurat berdasar informasi dari narasumber yang kredibel.
Menyadari bahwa berita hukum sering terlihat tidak menarik dan membosankan Buku “Jurnalisme Hukum, Jurnalisme Tanpa Menghakimi” ini hadir mengupas tuntas bagaimana langkah-langakah untuk menghasilkan sebuah karya jurnalistik hukum yang baik dan menarik. Penulis selalu menekankan tentang fakta dan berita yang berimbang, tanpa mengesampingkan sudut pandang pembaca yang tidak semuanya mengerti benar akan hukum, sehingga tulisan yang dihasilkan tetap menarik tanpa mengurangi substansinya.
Buku setebal 194 halaman ini terdiri atas tujuh bagian dan dilengkapi dengan kamus mini istilah-istilah hukum, Undang-Undang Pers, dan Undang-Undang Tentang Tindak Pidana Korupsi. Bagian pertama buku ini memberikan penjelasan tentang arti dari jurnalisme hukum itu sendiri, sedangkan pada bagian lain mengulas tentang pengetahuan, langkah, dan tips menghasilkan karya jurnalistik hukum, seperti ulasan tentang persoalan hukum yang layak ditulis, sumber berita penulisan hukum, penulisan berita, cara mengejar narasumber, dan membuat berita hukum mudah dipahami.
Tidak semua wartawan mengerti benar tentang perkara hukum. Area hukum yang luas membuat wartawan yang tidak mempunyai pendidikan khusus di bidang hukum, sering tidak tepat dalam menyampaikan suatu istilah hukum. Karena kesalahan istilah seperti tersangka, terpidana, atau terdakwa bisa jadi sangat merugikan suatu pihak. Selain itu, istilah-istilah hukum banyak yang menggunakan Bahasa Belanda yang asing di telinga kita. Secara penulisan pun cukup rumit. Kamus mini istilah-istilah hukum yang terletak di bagian akhir buku ini akan sangat membantu wartawan dalam membuat sebuah tulisan tentang hukum secara baik dan benar.
Buku ini adalah buku yang baik dan menarik untuk dibaca siapa pun bahkan bagi mereka yang tidak menggeluti dunia jurnalisme profesional. Meskipun membahas tentang hukum, buku ini ditulis dengan ringan sehingga pembaca tidak merasa ‘berat’ untuk membacanya. Seluruh isi buku disampaikan dengan rinci dan mudah dipahami. Buku ini juga mengulas perihal penulisan berita hardnews dan feature secara mendalam sehingga pembaca yang buakanlah seorang wartawan profesional pun dapat belajar menulis berita secara mendasar. Bagian ini juga dilengkapi dengan banyak contoh tulisan hardnews dan feature oleh penulis yang telah dimuat di Majalah Tempo.
L.R. Baskoro, penulis buku ini, adalah Redaktur Utama Kompartment Hukum dan Kriminal Majalah Tempo. Kredibilitas penulis dalam menulis buku tentang jrnalisme hukum tidak diragukan lagi karena penulis adalah lulusan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret dan juga Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Buku ini adalah karya keduanya setelah buku “Jurnalisme Lingkungan, Jurnalisme Menggerakkan”.

Masa Depan Jurnalisme Profesional di Tengah Berkembangnya Jurnalisme Warga


Bencana dahsyat yang melanda tanah rencong lima tahun silam masih membuat siapa pun merinding jika mengingatnya. Tsunami menerjang apa pun yang dilewatinya. Bangunan hancur, ratusan ribu nyawa melayang. Meskipun tidak semua orang mengalami bencana itu secara langsung, namun kita dapat menyaksikan keganasan tsunami Aceh tersebut melalui sebuah video yang dibuat langsung saat kejadian oleh salah satu korban, yaitu Cut Putri.
Rekaman gambar yang dibuat oleh Cut Putri yang kemudian bisa disaksikan oleh khalayak umum tersebut adalah sebuah kegiatan yang dinamakan Citizen Journalism atau Jurnalisme Warga. Jurnalisme warga adalah kegiatan partisipasi aktif yang dilakukan masyarakat dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisis, serta penyampaian informasi dan berita.[1] Jurnalisme warga adalah kegiatan jurnalisme yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki basic sebagai jurnalis atau wartawan profesional. Lebih jauh lagi Imam suwandi dalam bukunya “Langkah Otomatis Jadi Citizen Journalist” menyatakan bahwa Citizen Journalist merupakan fenomena bagi siapapun yang mengamati perkembangan media, mereka yang berada di lingkup seperti akademisi, para praktisi, kru dan pemilik media, maupun mereka yang berada di luar media, seperti para pengamat media dan pemirsa.
Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, kebebasan berdemokrasi dan mengekspresikan diri bagi setiap manusia menjadi semakin mudah. Tak terelakkan lagi, saat ini kita memasuki era internet dimana semua orang dapat dengan bebas bertukar informasi tanpa ada batasan waktu dan jarak. Bahkan media massa mampu menyebarkan pesan hampir seketika pada waktu yang tak terbatas (Nurudin, 2007). Inilah yang menjadi cikal bakal semakin maraknya praktek Citizen Journalism. Kemudahan yang ditawarkan membuat siapa pun dapat menyampaikan segal informasi yang ia dapat kepada dunia melalui blog pribadinya atau pun akun jejaring sosial seperti twitter dan facebook.
Meskipun istilah Jurnalisme Warga atau Citizen Journalism mungkin belum terlalu akrab di kalangan umum, namun secara sadar ataupun tidak sadar, kegiatan Jurnalisme Warga telah sering diakukan oleh masyarakat awam sejak waktu yang tidak bisa dikatakan sebentar.  Pemicunya tidak lain adalah perkembangan teknologi yang tentu saja memudahkan setiap individu untuk berekspresi apa pun kepentingannya.
Menyadari akan semakin tingginya minat masyarakat terhadap Jurnalisme Warga, beberapa pihak telah memfasilitasi dengan dibentuknya wadah untuk menampung karya jurnalisme dari masyarakat luas ini. Dimulai dari salah satu program acara di Radio Elshinta yang menjadikan warga sebagai sumber berita[2], selanjutnya ada social blog bentukan Kompas yaitu Kompasiana. Media elektronik seperti televisi turut memberikan ruang bagi warga dengan program Wideshot di MetroTV ataupun SCTV yang memberikan kesempatan bagi pemirsanya untuk mengirimkan berita yang nantinya berita terpilih akan disiarkan dalam program liputan6. Semuanya melibatkan peran aktif dari masyarakat sebagai sumber informasi, entah dengan menulis berita atau mengirimkan video rekaman yang mereka buat sendiri.
Di lain pihak, Atmakusumah Astraatmaja, dalam acara diskusi tentang “Kebebasan Pers dan Keselamatan Wartawan di Aceh”, di Jakarta tahun 2003 menyampaikan bahwa Jurnalisme prefesional membuat laporan akurat dan faktual berdasarkan kemampuan wartawan. Wartawan harus selalu skeptis dengan pernyataan orang, sehingga perlu mencocokkan (cross check) dengan pihak lain. Prinsip dasar jurnalisme profesional, kata Atmakusumah, adalah melaporkan secara obyektif dengan cara membuat berita tidak bias, berimbang, tidak diskriminatif dan tidak berprasangka. Hal ini tentu saja berbeda dengan Citizen Journalism.
Tidak dapat dipungkiri, kebebasan seseorang dalam menyampaikan informasi justru menjadi boomerang bagi Jurnalisme Warga itu sendiri. Informasi yang diberikan belum tentu akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.  Jurnalisme profesional tentu saja tidak serta merta bisa dipisahkan dari dunia Jurnalisme warga. Jurnalisme warga mempunyai berbagai kelebihan, misalnya kecepatan informasi yang diperoleh, issue yang dekat dengan masyarakat, dan juga ketepatan momen yang didapatkan. Sedangkan dunia Jurnalisme Profesional tentu saja mengutamakan kebenaran, kelengkapan, kedalaman, dan akurasi suatu berita (Suwandi, 2010:35-36). Semakin berkembangnya Jurnalisme Warga bukanlah suatu ancaman bagi eksistensi Jurnalisme profesional. Keduanya justru dapat saling mendukung dan melengkapi sesuai dengan keunggulan dan ciri khas masing-masing.
Berita menarik atau bahkan penting yang ditangkap oleh pewarta Jurnalisme Warga bisa jadi tidak diketahui orang banyak karena keterbatasan media untuk mengaksesnya. Di lain pihak, cakupan media mainstream yang luas tentu saja memungkinkan suatu berita dapat sampai ke telinga masyarakat luas pula.
Di sinilah Citizen Journalism berperan sebagai pemicu atau pemantik jurnalis berita mainstream untuk lebih mengeksplorasi dan melakukan riset atas suatu fenomena berita atau informasi sebelum nantinya dilemparkan ke publik dalam bentuk berita yang akurat, terpercaya, memenuhi semua kaidah pemberitaan, dan tidak melanggar kode etik jurnalistik. Tentu saja kejelian dan sensitivitas seorang wartawan sangat diperlukan di sini. Dibutuhkan kepekaan dan ketrampilan wartawan untuk untuk melihat angle yang menarik dari suatu peristiwa (Baskoro, 2010:31)


DAFTAR PUSTAKA
Baskoro, L.R. 2010. Jurnalisme Hukum, Jurnalisme Tanpa Menghakimi. Jakarta: Jurnalis Indonesia dan Lintang Pers.
Nurudin. 2007. Pengantar komunikasi massa. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Suwandi, Imam. 2010. Langkah Otomatis Jadi Citizen Journalist. Jakarta: Dian Rakyat.
Diunduh dari http://www.tempo.co.id/hg/nasional/2003/06/03/brk,20030603-29,id.html diunduh pada 4 Januari 2012 pukul 10.00
Diunduh dari http://kapita-fikom-untar-915080089.blogspot.com/2011_09_01_archive.html diunduh pada 4 Januari 2012 pukul 10.00


[1] Disampaikan Agus Sudibyo dalam Seminar “Jurnalisme Warga” di Universitas Tarumanegara 2011. Sumber http://kapita-fikom-untar-915080089.blogspot.com/2011_09_01_archive.html
[2] Disampaikan oleh Muninggar Sri Saraswati dalam Diskusi Panel “Jurnalisme Warga” Seminar Nasional Jurusan Ilmu Komunikasi UGM. Tanggal 14 Desember 2011.